Sehempas hatiku kau hentak dengan kata-katamu.
Sebentuk rinduku membengkak mendengar keluh-kesahmu.
Tuhan, jika kau memang ada, pasti kau merasa.
Tuhan, jika kau memang ada, pasti kau mengetahui segalanya.
Apa yang aku rasa, apa yg dia rasa, apa yg terjadi di antara kami berdua.
Serempak suara hujan menjalari syaraf melalui indera pendengarku.
Malam ini dingin, sedingin keinginanku akan masa depan yg paling tidak tak seberat saat ini.
Aku memang makhluk pengeluh.
Tak lebih.
Biarkan kali ini aku menangis dalam tulisanku.
Biarkan aku goreskan huruf-huruf yang sembab, tanda baca yang sendu, dan spasi yang menyayat kalbu.
Paling tidak aku bebas untuk menangis dalam tulisanku sendiri.
Tangisan tanpa air mata, tanpa suara, tanpa kenapa, mengapa, karena apa.
Tangisan berupa sekelebat hati yang terpagut nelangsa.
Nelangsa, mungkin satu kata itu yg bisa menggambarkan semua.